Jreng…!! kelompok 3, minggu kedua Nov’08..

tempat : PDAM MACCINI SOMBALA

“ hah? Dimana tuh? “

“ Dekat Jembatan menuju Benteng Somba Opu “

Waaaaaaaaaaaaaaakkkkkkssss………………. ( ‘shock’ mode on )

 bagi pembaca non makassar, benteng somba Opu itu jauh banget!  

***

Akhirnya dimulailah petualangan Dora hari pertama mencari Lokasi.

2 orang personil dari kelompok 3 yang sama sekali buta arah, sama sekali tidak membawa kompas, sama sekali tidak membawa peta, ketemu dan janjian berangkat sama-sama ( cocokmi…), dengan pedenya naik pete-pete.

Hasilnya sudah pasti…. tersesat! ( pastimi iya.. )

Setelah melamun kira-kira 3 judul, setelah teler-bangun-teler-bangun, setelah dipandangi seluruh penumpang pete-pete yang selalu salah jurusan, setelah 3x naik turun pete-pete, akhirnya sampai juga dengan penampilan porak poranda dan kondisi menyedihkan, udah gitu telat 1 setengah jam lagi! Benar-benar penuh pengorbanan, daya juang, dan harga diri yang tinggi!

“Ternyata tempatnya disini toh? Dari tadi kek! ” ucap dua orang tadi sembari menatap pedih jalan menuju roma… ( sedih kan? ) Tempatnya dekat kontruksi pemuatan pasir, disamping sungai, harus jalan kira-kira 100 meter kedalam.

PDAM Maccini Sombala

PDAM Maccini Sombala

Sampai disana teman-teman yang lain sudah pada datang.

Untunglah bapak –bapak disana baik sekali, dengan wajah ramah dijelaskan tempat-tempat PDAM beserta fungsinya. Apa saja yang ditanyakan pasti dijawab sejelas-jelasnya. Hmm… kami jadi senang bertanya dan tidak kaku, semua kegelisahan pra-magang menguap entah kemana, suasana jadi santai. Sepanas apapun keadaan saat itu, bapak tersebut tetap menjelaskan dengan senang hati.

 Saat menerima penjelasan

Hari pertama berisi tahap-tahap pengenalan akan alat-alat operasional PDAM.

Air baku yang diambil PDAM Maccini Sombala adalah sungai yang tepat disamping PDAM.

Proses pengolahan air baku menjadi air bersih dimulai dari air sungai yang disedot masuk sebuah pipa, berikut gambarnya,

 100_02682 100_0426 100_04301

Kemudian masuk kedalam bak-bak yang telah disiapkan, bak-bak tersebut terbagi lagi menjadi beberapa, jika ditulis alurnya akan seperti ini :

Koagulasi – flokulasi – saringan – bak sedimentasi –  selanjutnya dengan pompa dialirkan untuk proses penjernihan ke rumah mesin

Koagulasi - Flokulasi - Saringan - Bak sedimentasi

Koagulasi - Flokulasi - Saringan - Bak sedimentasi

Koagulasi : Penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.

Koagulan : Zat kimia yang menyebabkan destabilisasi muatan negatif partikel di dalam suspensi. Zat ini merupakan donor muatan positip yang digunakan untuk mendestabilisasi muatan negatip partikel. 

Flokulasi : Penyisihan kekeruhan air dengan cara penggumpalan partikel untuk dijadikan partikel yang lebih besar. Gaya antar molekul yang diperoleh dari agitasi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap laju terbentuknya partikel flok.
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan proses flokulasi adalah pengadukan, dimana dikenal tiga macam cara pengadukan yaitu mekanis, pneumatis dan hidrolis. Pengadukan dengan cara mekanis adalah yang paling banyak digunakan dalam pengolahan air minum, namun memerlukan peralatan yang rumit dan pasok enerji yang cukup besar.

Sedimentasi : Proses pemisahan partikel-partikel melayang di dalam air oleh pengaruh gaya gravitasi atau gaya berat partikel.

 

Tunggu saja laporan selengkapnya di posting-posting mendatang 

 NB : buat teman-teman kelompok lain yang mau kegiatannya juga di posting, silahkan kasih tulisannya.

 

Oleh: Inforkom KL | November 14, 2008

MUSIM MAGANG TELAH TIBA!!

MUSIM MAGANG TELAH TIBA!!

November 2008, ………………

agaknya menjadi bulan horror untuk anak Kesling angkatan 05, saat itu adalah…

dimana saat musim-musimnya sibuk

dimana saat resah dan gelisah bercampur jadi satu

dimana saat matahari…. ( halah! Stop sampai disini! )

yup, saatnya magaaaaang………

Bulan ini anak KL 05 betul-betul hanya memikirkan dan fokus pada urusan magaaaang melulu!  Sampai-sampai 2 tugas besar yang diberikan di mata kuliah ‘Seminar Kesling’ kami telantarkan begitu saja ( sebenarnya bukan ditelantarkan sih.. cuman dicueki, yang bikin palingan 1-2 orang )…hihihi..alhasil si ‘pace’ ( sebutan untuk dosen ) marah-marah… huhuhu… sudah biasa diginiin kok… sudah tradisi….

Kelompok magang dibagi dalam empat kelompok, tempat magangnya yakni di PDAM dan PT. KIMA. Empat kelompok tersebut dirolling secara bergiliran dan acak dalam waktu sebulan penuh, waktu magangnya dari senin – jumat.

Sebenarnya sih dibilang susah tidak juga, awalnya sempat merasa takut terlalu sibuk jika magang, tapi setelah sampai di lokasi… eeeh… ternyata malah menyenangkan, walau ada bosan sedikit sih…

Lokasi magang di PDAM berbeda-beda tiap kelompoknya, ada yang tempat magangnya jauh banget boo… apalagi lokasinya di PDAM yang hampir keluar perbatasan (eits..) terpaksa beberapa dari teman-teman harus minta izin (bolos?) dari kuliah, masa iya rela bolak balik ke kampus yang perjalanannya memakan waktu1-2 jam?!!

Bagi yang giliran di KIMA sih tidak apa-apa, karna lokasi PT. KIMA lebih dekat dengan kampus, tidak sampai setengah jam.

Oh iya, pasti ada pertanyaan “ apa sih yang dilakukan di PDAM & KIMA? “

Gini ya, di PDAM kami mencari tau semua proses dimulai dari air baku yang diambil, biasanya sungai, diolah ( tentunya dengan proses yang sangat panjang ) hingga pendistribusiannya kepada masyarakat luas. Nah kami ikuti proses PDAM dari awal hingga akhir, ditemani dan dijelaskan oleh Karyawan-karyawan sana.

Di KIMA, kami khusus mengamati Proses Pengolahan Limbah hasil Industri.

Hasilnya nanti diposting setelah semua laporan hasil magang selesai dikerjakan.

Oleh: Inforkom KL | November 3, 2008

TOKSIKOLOGI LOGAM BERAT ( TIMBAL )

Timbal (Pb) merupakan logam berat dengan konsistensi lunak dan berwarna hitam. Banyak industri yang menggunakan Pb sebagai bahan baku misalnya industri battery dan aki serta banyak pula industri yang mengahasilkan produk yang mengandung Pb misalnya industri cat dan bahan pewarna lainnya. Logam berat Pb dap at meracuni tubuh manusia baik secara akut maupun kronis. Senyawa Pb organik mempunyai daya racun yang lebih kuat dibandingkan dengan senyawa Pb anorganik. Senyawa Pb dapat masuk kedalam tubuh manusia dengan cara melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan makanan maupun kontak langsung dengan kulit. Masuknya partikel Pb melalui saluran pernafasan adalah sangat penting dan merupakan jalan masuk kedalam tubuh yang dominan. Keracunan Pb yang akut dapat menimbulkan gangguan fisiologis dan efek keracunan yang kronis pada anak yang sedang mengalami tumbuh kembang akan menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan mental.

 A. SUMBER BAHAN PENCEMAR LOGAM BERAT.2. Sumber dari Industri

1. Sumber dari Alam

Kadar Pb yang secara alami dapat ditemukan dalam bebatuan sekitar 13 mg/kg. Khusus Pb yang tercampur dengan batu fosfat dan terdapat didalam batu pasir (sand stone) kadarnya lebih besar yaitu 100 mg/kg. Pb yang terdapat di tanah berkadar sekitar 5 – 25 mg/kg dan di air bawah tanah (ground water) berkisar antara 1- 60 µg/liter. Secara alami Pb juga ditemukan di air permukaan. Kadar Pb pada air telaga dan air sungai adalah sebesar 1 -10 µg/liter. Dalam air laut kadar Pb lebih rendah dari dalam air tawar. Laut Bermuda yang dikatakan terbebas dari pencemaran mengandung Pb sekitar 0,07 µg/liter. Kandungan Pb dalam air danau dan sungai di USA berkisar antara 1-10 µg/liter. Secara alami Pb juga ditemukan di udara yang kadarnya berkisar antara 0,0001 – 0,001 µg/m3.

 

Industri yang perpotensi sebagai sumber pencemaran Pb adalah semua industri yang memakai Pb sebagai bahan baku maupun bahan penolong, misalnya:

 Industri pengecoran maupun pemurnian.

Industri ini menghasilkan timbal konsentrat ( primary lead), maupun secondary lead yang berasal dari potongan logam (scrap). 

 Industri batery.

Industri ini banyak menggunakan logam Pb terutama lead antimony alloy dan lead oxides sebagai bahan dasarnya.

 Industri bahan bakar.

Pb berupa tetra ethyl lead dan tetra methyl lead banyak dipakai sebagai anti knock pada bahan bakar, sehingga baik industry maupun bahan bakar yang dihasilkan merupakan sumber pencemaran Pb.

 Industri kabel.

Industri kabel memerlukan Pb untuk melapisi Baca Lanjutannya…

Oleh: Inforkom KL | November 3, 2008

Kebijakan terhadap Pencemaran Lingkungan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 4 TAHUN 2001

TENTANG

PENGENDALIAN KERUSAKAN DAN ATAU PENCEMARAN

LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN

KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN

PASAL DEMI PASAL

 

Pasal 8 Ayat 4

Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup daerah dapat ditetapkan lebih ketat daripada kriteria baku kerusakan lingkungan hidup nasional apabila kondisi daerah tersebut memerlukannya dan bertujuan untuk memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap lingkungan hidup di daerah.

 

Pasal 10

Ketentuan tentang baku mutu pencemaran lingkungan hidup nasional untuk berbagai sumber daya alam telah ditetapkan dalam berbagai peraturan, antara lain baku mutu udara.

 

Pasal 11

Kegiatan yang menimbulkan kebakaran hutan dan atau lahan adalah antara lain kegiatan penyiapan lahan untuk usaha di bidang kehutanan, perkebunan, pertanian, transmigrasi, pertambangan dan pariwisata yang dilakukan dengan cara membakar. Oleh karena itu, dalam melakukan usaha tersebut dilarang dilakukan dengan cara pembakaran, kecuali untuk tujuan khusus atau kondisi yang tidak dapat dielakkan, antara lain pengendalian kebakaran hutan, pembasmian hama dan penyakit, serta pembinaan habitat tumbuhan dan satwa. Pelaksanaan pembakaran secara terbatas tersebut harus mendapat izin dari pejabat yang berwenang.

 

Selanjutnya kebiasaan masyarakat adat atau tradisional yang membuka lahan untuk ladang dan atau kebun dapat menimbulkan terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan. Untuk menghindarkan terjadinya kebakaran di luar lokasi lahannya perlu dilakukan upaya pencegahan melalui kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah masing-masing seperti melalui peningkatan kesadaran masyarakat adat atau tradisional.

 

Pasal 13

Yang dimaksud dengan penanggung jawab usaha yang usahanya dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan, antara lain usaha di bidang kehutanan, perkebunan, dan pertambangan.

 

Pasal 14

Sistem deteksi dini dimaksudkan untuk mengetahui terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan, contohnya menara pemantau.

 Yang dimaksud dengan pelatihan penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan secara berkala antara lain adalah setiap 6 (enam) bulan sekali.

 

Pasal 15

Laporan hasil pemantauan secara berkala dilengkapi antara lain dengan data pemantauan dan data penginderaan jauh dari satelit.

 

Pasal 16

Yang dimaksud dengan pejabat yang berwenang memberikan izin Baca Lanjutannya…

Oleh: Inforkom KL | Agustus 15, 2008

Lab. KL

Bahan pencemar adalah jumlah berat zat pencemar dalam satuan waktu tertentu yang merupakan hasil perkal ian dari kadar pencemar dengan debit limbah cair (SK Gub. No.61 tahun 1999). Parameter yang digunakan untuk mengukur kadar bahan pencemar antara lain :

a. BOD (Biochemical Oxygent Demand)
BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain Agnes A.R., R. Azizah ., Perbedaan Kadar BOD, COD, TSS 99 sistem pengolahan secara biologis (G. Alerts dan SS Santika,1987).

b. COD (Chemical Oxygent Demand)
COD adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasi K2,Cr2,O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) (G. Alerts dan SS Santika, 1987).

c. TSS (Total Suspended Solid)
TSS adalah jumlah berat dalam mg/liter kering lumpur yang ada dalam limbah setelah mengalami penyaringan dengan membrane berukuran 0,45 mikron (Sugiharto, 1987). Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui kekuatan pence- maran air limbah domestik, dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air (BAPPEDA, 1997).

d. MPN Coliform
Untuk mengetahui jumlah Coliform didalam contoh biasanya digunakan Baca Lanjutannya…

Oleh: Inforkom KL | Agustus 15, 2008

PENGANALISA OKSIGEN / (OXYGEN ANALIZERS)

Dalam siklus aquatic, oksigen memegang peranan penting. Jika airnya transparan, maka tumbuh-tumbuhan yang hidup akan menghasilkan oksigen. Ada dua jenis pengukuran oksigen yang dipakai dalam pengolahan limbah yaitu : DO (Dissolved Oxygen ) dan BOD (biochemical oxygen demand), yaitu jumlah kerusakan akibat pembuangan limbah terhadap air penerima. Serta COD (chemical oxygen demand), yaitu menghitung OD secara kimia.

Bypass Filter dan Homogenizer

Dalam pendeteksian DO, parameter diukur dalam fase liquid dan solid disaring diluar. Dalam pengukuran BOD, oxygen demand umumnya dalam bentuk solid. Dan mereka harus dievaluasi. Sehingga kebanyakan penganalisa BOD dan COD yang dipakai adalah homogenizer (pencairan solid) dan menggunakan filter untuk pencegah penyumbatan menahan penggabungan sample.

Slipstream dan Bypass Filter

Slipstream digunakan untuk mengurangi kemacetan transportasi dari proses ke analyzers. Karena aliran sample ke analyzer kecil maka analyzer hanya menggunakan sebagian kecil aliran ini dan mengembalikannya ke proses

slipstream filter menggunakan inlet-to-outlet port pada opposite end dari filter agar alirannya cepat untuk menyapu permukaan filter dan reservoir. Juga menggunakan port ke tiga yang menghubungkan laju aliran lambat dengan analyzer.

Homogenizer

Permasalahan yang sering terjadi adalah plugging (penyumbatan). Ada dua cara untuk mengatasinya, yaitu filter dan homogenizer.

Pada filter, selain menghilangkan material yang mungkin menyumbat system, dia juga membuang konsituen proses dan membuat sample tidak representative lagi. Sedangkan pada homogenizer, pemisahan dan menurunkan ukuran partikel solid, menurunkan agglomerasi dan mencairkan sample. Salah satu contohnya adalah Ultrasonic Homogenizer yang menggunakan gelombang untuk menggetarkan pada bagian Baca Lanjutannya…

Oleh: Inforkom KL | Juni 5, 2008

Sampah Elektronik Picu Penurunan IQ

Sumber : http://www.keluargasehat.com/sekitar-lingkungan

Di jaman informasi ini, barang-barang elektronika seperti televisi, komputer, VCD player, tape recorder maupun telepon genggam bukanlah barang asing.

Karena bagi sebagian orang, barang-barang tersebut merupakan kebutuhan vital yang harus dipenuhi seperti layaknya sembako.

Tetapi, seperti barang-barang lainnya, suatu saat jika sudah usang ataupun rusak dan tidak dapat lagi diperbaiki, barang-barang tersebut akan menjadi rongsokan alias sampah yang layak untuk dibuang.

Apakah Anda menyadari, sampah dari barang-barang elektronika tersebut berbahaya bagi perkembangan otak manusia? Seperti kita ketahui, rongsokan elektronika ini mengandung sekitar 1000 material, dan sebagian besar dikategorikan sebagai bahan berbahaya, karena merupakan unsur beracun seperti logam berat, diantaranya adalah timbal.

Ketika dibakar, sampah yang mengandung logam berat ini menimbulkan polusi udara (pencemaran timbal) yang sangat berbahaya. Jika dibuang akan menghasilkan lindi (cairan yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi air eksternal dari hujan). Cairan yang sangat konduktif ini masuk ke dalam tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah.

Apakah timbal itu? Timbal adalah neurotoksin (racun penyerang Baca Lanjutannya…

Oleh: Inforkom KL | Juni 5, 2008

Polusi Timbal Bikin Bodoh!

Sumber : http://www.keluargasehat.com/sekitar-lingkungan

Pencemaran udara di kota-kota besar Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Polutan yang berasal dari pembakaran kendaraan bermotor yang mengandung timbal dapat membuat anak-anak tumbuh menjadi generasi yang tidak cerdas.

Bensin bertimbal masih digunakan di Indonesia. Baru beberapa kota saja yang sudah mengganti bensin dengan bensin tanpa timbal. Sungguh sangat disayangkan, mengingat hampir seluruh negara di wilayah Asia sudah tidak menggunakan bensin bertimbal.

“Tinggal Indonesia dan Laos,” ujar Ir. Puji Lestari, Ph.D, ahli polusi udara dari ITB, tentang negara yang masih memakai bensin bertimbal.

Thailand mengganti bahan bakar, terutama untuk transportasi publiknya, dengan gas, sehingga tingkat cemaran udara yang mengandung timbal sudah menurun drastis. Terbukti, ujar staf pengajar dan peneliti di Teknik Lingkungan ITB ini penggantian bahan bakar tersebut berpengaruh besar terhadap kadar timbal di udara.

Setahun setelah tidak menggunakan timbal pada bahan bakar, terjadi penurunan polusi yang signifikan. Hal yang sama terjadi di Jakarta tahun 2001-2002 seperti dilakukan Pusarpedal,” tuturnya.

IQ Turun

Timbal sebagai polutan berdampak buruk bagi kesehatan. Golongan yang sangat rentan terpapar timbal adalah anak-anak yang sedang bertumbuh kembang, juga wanita hamil dan menyusui. Timbal merusak susunan saraf pusat, sehingga bisa menyebabkan keguguran atau anak lahir dengan retardasi mental.

Sementara pada anak, penelitian yang dilakukan oleh DR. Puji, menunjukkan hal yang mengenaskan. Dari 400 murid yang jadi responden, kadar timbal dalam darahnya rata-rata sudah melampaui ambang batas 10 mkg/dL.

Analisis kadar timbal dilakukan dengan mengambil sampel darah setiap siswa tersebut. Ditambahkan doktor lulusan Illinois Institute of Technology, AS ini cara yang dilakukannya adalah yang paling mudah dan cepat. Juga memberikan indikasi yang jelas terhadap pencemaran timbal dalam tubuh.

Sifat timbal berakumulasi dalam darah bisa mengindikasikan berapa banyak kadarnya. Selagi orang masih terpapar udara yang mengandung timbal, timbal akan terus ada di dalam Baca Lanjutannya…

Sumber : http://www.keluargasehat.com/sekitar-lingkungan

Kendati data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004 menyebutkan bahwa 73 persen penduduk Indonesia sudah memiliki fasilitas sanitasi namun kenyataannya hingga saat ini lebih dari 60 persen penduduk belum bisa mengakses fasilitas sanitasi yang memadai.

“Menurut data, akses terhadap fasilitas sanitasi memang cukup tinggi tetapi yang terlihat di lapangan tidak demikian. Lebih dari 60 persen penduduk tidak menggunakan sistem sanitasi yang bagus,” kata Staf Ahli Environmental Sanitation Programme United States Agency for International Development (USAID) Foort Bustraan pada lokakarya tentang sanitasi perkotaan, di Jakarta, Rabu.

Senada dengan Bustraan, Kepala Sub Direktorat Air Minum dan Air Limbah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Nugroho Tri Utomo juga mengemukakan bahwa aksesibilitas terhadap sarana sanitasi yang memadai di Tanah Air memang masih rendah.

Menurut Nugroho, hal itu terlihat dari masih minimnya jumlah fasilitas sanitasi yang memadai di daerah perkotaan, daerah sub urban maupun di pedesaan.

Data Departemen Kesehatan tahun 2000, yang menurut Bustraan tidak banyak berubah hingga saat ini, juga menyebutkan bahwa fasilitas sanitasi di Tanah Air yang menggunakan perpipaan baru satu persen, fasilitas sanitasi komunal 19 persen, fasilitas sanitasi pribadi tanpa septic tank sebanyak 31 persen dan fasilitas sanitasi pribadi dengan septic tank baru berkisar 23 persen.

“Dan yang ada di lapangan bahkan lebih buruk dibandingkan Baca Lanjutannya…

Oleh: Inforkom KL | Juni 5, 2008

Menjaga Ozon dari CFC Selundupan

sumber : http://www.keluargasehat.com/sekitar-lingkungan

Bacalah kembali hasil riset Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2002 silam itu. Dan akuilah betapa zalimnya kita pada lapisan ozon.

Survei tersebut ‘menggaruk’ lebih dari 4.000 bengkel airconditioner (AC) mobil di DKI Jakarta. Dari jumlah itu, 60 persen bengkel terbukti memakai hydrofluorocarbons (HFC) palsu. HFC adalah bahan isi ulang AC yang ramah lingkungan.

Meski mengklaim HFC pada labelnya, isi tabung-tabung AC tersebut bukan HFC, melainkan chlorofluorocarbons (CFC)-12 atau CFC-11. Ini adalah bahan kimia pembobol lapisan ozon yang dilarang secara internasional. ITB menduga praktik tipu-menipu –merusak ozon– ini terjadi pula di kota-kota selain Jakarta.

Pelabuhan Belawan, Medan, awal Agustus 2006, bagai membuktikan dugaan tersebut. Puluhan tabung HFC palsu dari Cina dan India berhasil diendus petugas. Kendati mencantumkan label R-134 (nama sejenis HFC) di bagian luarnya, instrumen indentifier digital menangkap basah tabung-tabung itu berbahan baku CFC-11 atau CFC-12 yang maut. Sesuai aturan, HFC ‘gadungan’ itu langsung dikembalikan ke negeri asalnya.

Maka tak keliru betul jika dikatakan bahwa negeri ini adalah pasar gelap bahan kimia pembolong ozon. Survei terpisah dari Jurusan Teknik Kimia ITB kian menguatkan dugaan tersebut. Secara keseluruhan, menurut survei itu, kandungan CFC impor di udara tercatat lebih tinggi dari kuota yang ditetapkan.

”Di Indonesia hanya ada satu importir yang diperbolehkan mengimpor bahan CFC, sehingga dapat terlacak mudah jumlahnya di udara. Tapi di lapangan, jumlahnya jauh lebih besar. Ini jelas indikasi adanya penyelundupan,” terang Redni Tota Sihite, staf Asisten Deputi Urusan Pengendalian Dampak Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Rabu (30/8).

Di salah satu wilayah di Peru, Amerika Selatan, pemerintah setempat telah memperingatkan warganya untuk Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori