Oleh: Inforkom KL | Maret 12, 2008

LAPORAN IPTEK – Bintang Hantu

TENTANG alam semesta, sungguh terdapat sifat-sifat yang ekstrem. Mahaluas sekaligus mahakosong. Ada juga yang mahamampat, mahadingin, dan mahapanas.

Bagaimana tidak kosong kalau untuk ukuran luas ia hanya terisi sedikit sekali materi, menghasilkan kerapatan materi 5×10 pangkat minus 30 gram/cm kubik, atau lima per juta-trilyun-trilyun gram per cm kubik. Adakah kehampaan seekstrem itu? (Kerapatan air 1 gram/cm kubik).

Sebaliknya, ada obyek di alam semesta yang kerapatannya di ekstrem lain, yakni yang super-superpadat. Inilah yang disebut black hole, lubang hitam, atau bintang hantu. Di alam semesta dikenal dua jenis bintang hantu, yaitu yang lahir sebagai sisa bintang raksasa biru yang meledak dan yang ada di dekat pusat-pusat galaksi.

Untuk jenis pertama, massanya berkisar 10 kali massa Matahari, atau 10×10 pangkat 33 gram atau 10 juta-trilyun-trilyun ton. Untuk jenis kedua, massanya bisa jutaan atau milyaran kalinya. Menempati ruang sempit, bisa dibayangkan kerapatan massa bintang hantu.

Perbandingan populernya adalah kalau saja orang bisa mengambil materi sebuah bintang hantu, maka berat sesendok teh bintang hantu sama dengan seluruh Kota New York dengan seluruh pencakar langitnya.

Obyek super-superpadat ini menimbulkan gravitasi yang mahakuat sehingga apa saja bisa ditarik dan ditelannya, termasuk cahaya. Kalau cahaya saja ia telan, bagaimana ia bisa terlihat?

Bintang hantu dibuktikan eksistensinya di alam dengan mendeteksi pancaran sinar-X yang amat kuat dari materi dan gas yang sedang ditelannya, sesaat sebelum lenyap dari pandangan. Dalam bahasa astronominya, sebelum ia melewati “horizon peristiwa”.

DI satu sudut langit, terdapatlah galaksi MCG-6-30-15 yang berjarak 130 juta tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya = 9.500 milyar km). Di galaksi ini pengamat melihat satu daerah seukuran orbit planet Mars, kira-kira lingkaran bergaris tengah 460 juta km yang tampak hitam, kosong.

Ke lubang itulah bintang-bintang dan material bintang selalu jatuh lenyap. Yang sudah tertelan ditaksir setara dengan seratus juta Matahari. Tak ada yang dapat meloloskan diri, termasuk cahaya. Ia sepenuhnya hitam, bak mulut terowongan panjang.

Kalau saja ada yang bisa ke sana dengan wahana antariksa, maka begitu dekat dengan lubang itu-bahkan sebelum pesawat memulai final descent menuju kegelapan-pilotnya sudah kehilangan kontrol. Ia akan disapu oleh arus tak tertahankan, bukan oleh gas atau debu bintang yang berpusing, tetapi oleh ruang-waktu itu sendiri.

Itulah pandangan baru mengenai bintang hantu, bahwa hendaknya ia tidak saja dilihat sebagai tempat di mana gravitasi demikian kuat, tetapi juga sebagai tempat di mana tatanan (fabric) ruang-waktu terus-menerus disedot ke dalam lubang.

Bintang hantu MCG-6-30-15 adalah bintang yang berputar (spinning) dan seiring dengan putarannya ia menarik ruang-waktu sekelilingnya. Kedahsyatan sekaligus kepelikan bintang hantu ini belakangan memang menjadi sorotan ahli fisika. Majalah Discover Juli 2002 menurunkan laporan utama berjudul Surprising New Physics: Black Holes-Weirder and more powerful than we ever imagined.

Heboh bintang hantu yang terakhir muncul awal pekan ini adalah laporan para ahli tentang dua bintang hantu yang sedang mengarah menuju tabrakan superdahsyat jutaan tahun mendatang. Kedua bintang hantu ditemukan di pusat sebuah galaksi hasil penggabungan dua galaksi lebih kecil.

Penemuan itu juga menjadi bukti pertama definitif bahwa dua bintang hantu supermasif bisa eksis dalam sebuah galaksi.

***
YANG berjasa dalam penemuan itu adalah tim peneliti dibantu Observatorium Sinar-X Chandra yang mengorbit di antariksa. Melalui pengamatan Chandra, tampak dua bintang hantu saling mengitari satu sama lain bak menari walsa Mephisto (Mephisto Waltz adalah judul karya piano Franz Liszt, juga judul film horor yang dibintangi Jacqueline Bisset yang deal dengan setan, semacam Dr Faust).

Dansa kedua bintang hantu akan diikuti penyatuan, yang ditaksir terjadi beberapa ratus juta tahun dari sekarang. Para astronom memperkirakan, penyatuan akan diikuti dengan pelepasan gelombang gravitasi dan radiasi sangat monumental, yang akan bergerak ke wilayah alam semesta lain.

“Pada saatnya nanti, riak gelombang gravitasi itu akan mencapai galaksi yang dihuni Bumi,” ujar Gunther Hasinger, anggota tim peneliti dalam jumpa pers yang diadakan NASA di Washington, Selasa (19/11) lalu. Riak tersebut, meski tak akan dirasakan manusia, akan menggoyang semua materi.

Hasinger sendiri, seperti dilaporkan Warren E Leary di International Herald Tribune (21/11), adalah ahli astrofisika di Institut Max Plack untuk Fisika Ekstraterestrial, Jerman. Ia menambahkan, pengamatan semula terhadap galaksi NGC 6240 – galaksi yang memiliki dua bintang hantu masif tadi dan berjarak 400 juta tahun cahaya-hanya mendeteksi dua kawasan pusat yang terang.

Namun, kemampuan Observatorium Chandra mengamati emisi sinar-X beresolusi tinggi berhasil mengidentifikasi sumber pancaran radiasi bintang-bintang hantu.

Stefanie Komosa, astronom di Max Planck yang juga salah satu penulis makalah temuan ini-akan dimuat di Astrophysical Journal Letters-menyatakan, itulah untuk pertama kalinya peneliti bisa mengidentifikasi bintang hantu ganda. Ia juga menyebut obyek itu merupakan produk tubrukan dua galaksi di masa lalu.

Para astronom masih akan menugaskan Chandra untuk memastikan, manakah dari kedua titik terang (dalam sinar-X) itu yang merupakan bintang hantu supermasif.

Dari pengamatan Chandra juga diketahui masing-masing bintang hantu di NGC 6240 berukuran sekitar orbit Mars, satu mengelilingi yang lain dengan jarak 3.000 tahun cahaya atau 28,5 ribu-trilyun km.

***
MELIHAT dinamika alam semesta yang amat tinggi, maka apa yang terjadi di galaksi NGC 6240 bisa saja terjadi di galaksi Bima Sakti atau galaksi Jalan Susu (Milky Way): galaksi beranggotakan 100 milyar bintang yang salah satu di antaranya adalah Matahari kita.

Penemuan bintang hantu di NGC 6240 juga menguatkan keyakinan bahwa di pusat-pusat galaksi terdapat bintang hantu raksasa, dengan massa jutaan bintang. Dengan fakta itu pula, kini muncul taksiran bahwa dalam tempo empat milyar tahun lagi Bima Sakti akan bertabrakan dengan galaksi tetangga Andromeda. Keduanya akan menyatu, meleburkan bintang-bintang hantu masing-masing jadi satu.

Dengan kata lain, melihat fenomena alam di NGC 6240, “Kita sedang melihat masa depan kita sendiri,” ujar Steinn Sigurdsson, astronom dari Pennsylvania State University yang ikut hadir pada temu wartawan, Selasa lalu.

Namun, manusia di Bumi tidak perlu khawatir. Menurut Hasinger, selain kejadiannya masih sangat lama-empat milyar tahun-Matahari sendiri sudah diperkirakan akan meledak menjadi sebuah nova dalam tempo tiga milyar tahun mendatang, lalu menjadi bintang katai putih yang seterusnya akan padam. (nin)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: