Oleh: Inforkom KL | Juni 5, 2008

Polusi Timbal Bikin Bodoh!

Sumber : http://www.keluargasehat.com/sekitar-lingkungan

Pencemaran udara di kota-kota besar Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Polutan yang berasal dari pembakaran kendaraan bermotor yang mengandung timbal dapat membuat anak-anak tumbuh menjadi generasi yang tidak cerdas.

Bensin bertimbal masih digunakan di Indonesia. Baru beberapa kota saja yang sudah mengganti bensin dengan bensin tanpa timbal. Sungguh sangat disayangkan, mengingat hampir seluruh negara di wilayah Asia sudah tidak menggunakan bensin bertimbal.

“Tinggal Indonesia dan Laos,” ujar Ir. Puji Lestari, Ph.D, ahli polusi udara dari ITB, tentang negara yang masih memakai bensin bertimbal.

Thailand mengganti bahan bakar, terutama untuk transportasi publiknya, dengan gas, sehingga tingkat cemaran udara yang mengandung timbal sudah menurun drastis. Terbukti, ujar staf pengajar dan peneliti di Teknik Lingkungan ITB ini penggantian bahan bakar tersebut berpengaruh besar terhadap kadar timbal di udara.

Setahun setelah tidak menggunakan timbal pada bahan bakar, terjadi penurunan polusi yang signifikan. Hal yang sama terjadi di Jakarta tahun 2001-2002 seperti dilakukan Pusarpedal,” tuturnya.

IQ Turun

Timbal sebagai polutan berdampak buruk bagi kesehatan. Golongan yang sangat rentan terpapar timbal adalah anak-anak yang sedang bertumbuh kembang, juga wanita hamil dan menyusui. Timbal merusak susunan saraf pusat, sehingga bisa menyebabkan keguguran atau anak lahir dengan retardasi mental.

Sementara pada anak, penelitian yang dilakukan oleh DR. Puji, menunjukkan hal yang mengenaskan. Dari 400 murid yang jadi responden, kadar timbal dalam darahnya rata-rata sudah melampaui ambang batas 10 mkg/dL.

Analisis kadar timbal dilakukan dengan mengambil sampel darah setiap siswa tersebut. Ditambahkan doktor lulusan Illinois Institute of Technology, AS ini cara yang dilakukannya adalah yang paling mudah dan cepat. Juga memberikan indikasi yang jelas terhadap pencemaran timbal dalam tubuh.

Sifat timbal berakumulasi dalam darah bisa mengindikasikan berapa banyak kadarnya. Selagi orang masih terpapar udara yang mengandung timbal, timbal akan terus ada di dalam darahnya.

Cara lain untuk mengetahui kadar timbal adàlah analisis rambut. Dijelaskan oleh Dr. Agustin Kusumayati, MSc., staf pengajar Kesehatan Lingkungan FKM UI, bila rambut yang dianalisis, biasanya kadar timbalnya sudah tinggi.

Tubuh sebenarnya mampu mengeluarkan timbal. Diperlukan waktu 35 hari untuk mengeluarkannya. Sayangnya, bila setiap hari tubuh terpapar timbal, tidak ada waktu untuk mengeluarkannya. Akibatnya, timbal akan menumpuk di dalam tubuh.

Bila sudah sampai terakumulasi di dalam tulang, akan sulit dikeluarkan. Kalau sudah begini, perlu waktu lama untuk mengeluarkannya.

Dampak timbal yang melebihi ambang batas dalam tubuh anak, bisa menurunkan kecerdasan intelektual (IQ) dan konsentrasi. Hingga ambang 10 mkg/dL, IQ anak bisa turun hingga 2,5 poin. Beberapa penelitian yang dilakukan di luar negeri menyebutkan, penurunan itu sampai 5,7 poin. Dalam konsentrasi yang lebih tinggi, lebih dari 30 mkg/dL, dapat menyebabkan anemia.

Konsumsi Kalsium

Menurut DR. Puji, anak yang mempunyai kadar timbal lebih dari ambang batas hendaknya diberi suplemen kalsium. Konsumsi makanan tinggi kalsium akan mengisolasi tubuh dari paparan timbal yang baru.

Dengan kata lain, paparan timbal yang baru akan dihadang oleh kalsium, sehingga tidak bisa masuk ke dalam aliran darah. Dengan begitu, timbal yang ada dalam darah bisa keluar. Di luar negeri, dikatakan Puji, kelasi pada anak sudah biasa dilakukan untuk membantu mengeluarkan timbal.

Pencemaran udara yang disebabkan pembakaran bahan bakar, terutama dari sektor transportasi, berkontribusi cukup besar. Karena itu, sudah selayaknya dilakukan penanggulangan berupa manajemen lalu lintas yang baik dan mengganti bahan bakar bertimbal dengan bahan bakar tanpa timbal.

Di sisi lain, untuk meminimalisasi paparan timbal terhadap anak, orangtua hendaknya membekali saputangan untuk menutup mulut dan hidung saat ada polusi udara. Memang tidak terlalu efektif, terlebih partikel timbal cukup kecil ukurannya, sehingga masih ada kemungkinan untuk melewati saputangan.

“Tetapi, cara itu lebih baik daripada tidak menggunakan sapu tangan sama sekali,” ujar DR Puji.

Mereka juga perlu diberi makanan berkalsium tinggi.

Tak Ada Beda antara Murid Perempuan dan Laki-laki

Penelitian ini melibatkan 400 siswa dari 40 SD di 25 kecamatan di Kota Bandung. Seluruh siswa diambil darahnya untuk dilakukan pengujian kadar timbal.

Dari pengukuran kadar timbal dalam darah atau blood lead level (BLL), rata-rata adalah 14,133 mkg/dL. Dari 400 siswa tersebut sebanyak 34,5 persen memiliki kadar timbal dalam darah kurang dari 10 mkg/dL dan 65,5 persen lebih dari 10 mkg/dL!

Rata-rata kadar timbal tertinggi ditemukan pada kelompok anak usia 11 tahun yaitu 17 mkg/dL serta kelompok usia 10 tahun, sebesar 14,746 mkg/dL. Kadar timbal terendah ada pada kelompok anak usia 7 tahun, yaitu 12,191 mkg/dL.

Setengah dari jumlah responden juga menjalani pengujian IQ. Meski tidak dilaporkan nilainya, hasil pengujian itu menunjukkan kadar timbal berbanding terbalik atau berkorelasi negatif dengan poin IQ anak.

Responden dengan kadar timbal tinggi menunjukkan poin IQ yang menurun. Ini berarti, kadar timbal yang tinggi menurunkan tingkat kecerdasan anak. Bukan hanya itu, kadar timbal tinggi juga mengganggu konsentrasi belajar anak.

Berdasarkan data, rata-rata BLL anak laki-laki adalah 14,766 mkg/dL, dan anak perempuan 13,745 mkg/dL. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh secara signifikan terhadap BLL, Baik anak laki-laki maupun perempuan memiliki risiko yang sama untuk terpapar timbal.

Dari 400 anak yang diambil contoh darahnya, sekitar 40,8 persen berusia 9 tahun dan 8 tahun sekitar 29,8 persen. Anak termuda berusia 5 tahun dan tertua 11 tahun. Mayoritas siswa yang dilibatkan adalah pelajar kelas 3 SD, sebanyak 38,5 persen dan kelas 4 SD sekitar 37 persen.

Dari jenis kelamin, jumlah anak laki-laki yang terlibat 172 orang atau 43 persen, sisanya anak perempuan. Mayoritas anak berasal dari keluarga golongan menengah sebanyak 156 anak (39 persen).

Rata-rata pengeluaran per bulan untuk kebutuhan sehari-hari Rp 501 ribu — 10 juta. Mayoritas pekerjaan orangtua adalah pedagang, sebanyak 136 orang, dan pegawai swasta 114 orang.
(idionline/KCM)


Responses

  1. tingkat pencemaran udara di kota-kota besar, khususnya bandung, jawa barat, saat ini cukup memprihatinkan. meskipun penggunaan bensin berkadar timbal kini sudah dilarang, tetapi masih banyak ditemukan kasus kadar timbal di ambang batas pada sebagian anak-anak sekolah dasar di bandung… see more http://commentnews.wordpress.com/2009/06/05/tinggi-kadar-timbal-di-tubuh-siswa-sd/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: